My Spiritual Journey: Saya telah Memilih


Ketika saya mengatakan bahwa saya telah memilih, itu bukan semata-mata bahwa saya telah menentukan sebuah pilihan. Tapi juga bahwa saya telah siap untuk terbuka. Dan resikonya tentu jauh lebih besar: orang-orang akan menganggap saya gila. Saya menduga, di antara semua orang yang mengenal saya sekian lama, hanya ada 2 orang yang akan menganggap saya masih waras. Dan 2 orang itu adalah RD dan WR. Ya, inilah saya.

Ke mana perjalanan ini akan membawa saya? Saya tidak tahu. Tapi konon katanya, just enjoy the ride. Do not focus on the destination. Well, ok!  Tapi yang paling menyedihkan dari semuanya, di usia saya yang 32 tahun, saya baru menemukan 2 orang. Well, saya baru menemukan 1 orang. RD menemukan saya. Saya menemukan WR. Baru 1. Dan saya sudah merasa Lelah dan ingin berhenti dari semuanya. Saya tidak tahu mana yang akan lebih beresiko terhadap kegilaan saya. Berhenti atau melanjutkan perjalanan yang tak jelas arahnya.

RD beberapa kali bertanya. Saya memilih mana. Menjadi manusia normal atau menjadi orang aneh sepenuhnya. Saya mencari jawabannya berhari-hari sambil menangis. Jawaban saya berubah-berubah dalam hitungan menit. Saya lelah menjadi orang aneh. Sebab saya tidak bisa terkoneksi dengan orang-orang. Tapi saya tidak bisa memaksa diri saya menjadi orang normal. Saya tidak bisa. Itu jauh lebih menyakitkan dan mengganggu akal sehat saya.

Jadi saat ini saya sudah memutuskan. Saya akan tetap melanjutkan perjalanan ini. Seberapa pun jauhnya ia membawa saya. Saya sudah melangkah jauh dan saya tidak tahu bagaimana jalan kembali. Saya merasa, saya tidak ditakdirkan menjadi manusia religius. Saya sudah mencoba. Berbulan-bulan saya memohon ampun dan berdoa agar ditunjukkan jalan pulang. Hasilnya? Saya tidak ditunjukkan jalan pulang. Saya malah dibukakan jalan untuk melangkah lebih jauh. Pertanda dan sinkronisitas muncul semakin sering. Saya hanya berharap bisa jadi seterbuka mereka. Beberapa orang yang saya kenal dari Youtube dan Instagram. Yang telah mengasah bakatnya dan telah menemukan kedamaiannya. Ya, mungkin nanti.

Jalan ini sepi. Sangat sepi. Tapi apa pilihan saya? Saya tidak memilih. Hidup yang memilih saya. Saya akan terus melangkah. Meski tanpa siapa-siapa. Kamu boleh menganggap saya gila. Tapi saya sedang mencoba menemukan kewarasan di tengah dunia yang gila.

Jika kamu ingin mengenal saya, well, welcome to my life.

Comments